Minggu, 19 Maret 2017

Muda Mengajar Speaking Club: Berbahasa Inggris sehari dalam Sepekan.



Jika kota Bandung memiliki program Kamis Inggris, yakni setiap hari Kamis warganya digalakkan untuk berbahasa Inggris, komunitas Muda Mengajar (MM) di Balikpapan pun memiliki program sejenis. Muda Mengajar Speaking Club adalah nama program diskusi Bahasa Inggris yang bertujuan meningkatkan kemampuan berbasa asing internasional tersebut. Program ini mulai digagas sekitar bulan November 2016. Pertemuan inisiasi ketika itu dilakukan di sebuah angkringan di depan Giant di Jl. M.T. Haryono.

Rencana awalnya, setiap seminggu sekali anggota muda mengajar yang tertarik untuk belajar percakapan Bahasa Inggris berkumpul di satu tempat, bias café, taman atau rumah. Di sana kita akan melakukan percakapan dalam Bahasa Inggris secara penuh. Peraturannya sederhana, anggota hanya diperbolehkan berbicara dalam Bahasa Inggris. Ketahuan berbicara bahasa lainnya (Bahasa Indonesia, Bahasa Banjar, Bahasa Bugis atau Bahasa lainnya) berakibat pada pemberian hukuman. Bentuk dari hukumannya beragam, yang penting bisa menambah kemampuan berbahasa Inggris. Setiap minggu PIC (Person In Charge) untuk kegiatan ini akan bergantian.

Pertemuan Pertama Penuh Canda
Banyak yang "Deg-degan", padahal bukan malam pertama

Pertemuan pertama yang dihadiri sebanyak 7 orang, bertempat di J.CO di Giant M.T. Haryono. Ketika itu topik yang hangat diperbincangkan adalah mengenai kandidat presiden Amerika Serikat. Mas Ade yang  ketika itu menjadi PJ membagi peserta menjadi 2 tim: tim pertama yang PRO jika Trump menjadi presiden dan tim kedua yang CON jika Pak Donald menjadi pemimpin Negara adidaya tersebut. Sejujurnya ketika itu kami agak kurang siap ketika mendadak diminta untuk mengeluarkan argument dan mempertahankannya. Hukuman bagi anggota yang kedapatan berbicara Bahasa selain Inggris adalah dengan memberitahukan 3 verbs yang jarang didengar. Secara tidak langsung hukuman ini memperkaya pembendaharaan kata (vocabulary) klub diskusi.

Ada juga sesi game ketika masing-masing dari kami diberikan kertas yang bertuliskan sebuah benda. Benda itu yang akan dipakai untuk bertahan hidup di hutan. Benda yang Saya dapat kompas. Hmm, cukup berguna untuk survival. Kawan-kawan lain ada yang dapat pulpen, paying, jaket, dan smartphone tanpa sinyal. Kita dapat memberi tanggapan dan masukan juga terhadap argument orang lain. Debat seru sempat terjadi antara pengguna handphone dan korek api.

Taufiq sang PJ menyiapkan bahan perbincangan 

Setiap pertemuan selalui diisi dengan topik yang segar dan menarik. Mungkin karena setiap pekan penanggung jawabnya bergantian (PJ), jadi tidak itu-itu saja. Ketika Saya jadi PJ, bertempat di café nyiurku di pinggir Pantai Benua Patra, kami bermain mendeskripsikan ilustrasi sarkastik dari John Holcroff sesuai interpretasi masing-masing. Ketika Bio memimpin forum, kami menikmati permainan detektif untuk memecahkan kasus pembunuhan di hotel. Ketika Taufiq membawa sesi speaking, kami asyik berdiskusi mengenai komunitas lain yang diikuti masing-masing anggota.

"I'll try not to speak Bahasa anymore during the club session"
Tetap happy walauu dihukum. Lha, wong ilmu bertambah, kenapa gak senang? :D

Awalnya Saya meraka agak kaku bicara Bahasa Inggris. Wong biasanya makan nasi disuruh bicara kayak bule. Sempat juga ada rasa malu untuk berbicara karena sejujurnya kemampuan speaking saya kurang begitu baik. Saya belum dapat berbicara cas cis cus seperti native. Tapi kemudian Saya memberanikan diri. Jika tidak dipaksakan, bagaimana dapat berkembang? Klub speaking ini merupakan kesempatan emas untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan orang lain.

Kemampuan Bahasa dari setiap anggota beragam, ada yang sudah fasih hingga Saya yakin ketika tes IELTS akan dengan mudah memperoleh band 8 sampai ada yang jika dapat menyanyakan arah toilet ketika kebelet saja sudah syukur. Sorry, I didn’t mean to be sharp-mouthed. But we share something in common: the determination in learning English and enhancing our conversation skills.

 Dari mulai jumlah pesertanya bisa dihitung pakai jari tangan, sampe gak cukup walau udah pake jari kaki. 

Sekarang MM Speaking Club terbuka untuk semua orang yang ingin mempertajam kemampuan Bahasa Inggrisnya, tidak terbatas kepada anggota Muda Mengajar saja. Pada awalnya pilihan tempat berkumpul terbatas dan itu-itu melulu. Sekarang momen berkumpul speaking club juga dimanfaatkan sebagai sarana mencoba café dan tempat makan baru. Selain lidah terbiasa melafalkan vocabulary Inggris, lidah juga  dimanjakan oleh cita rasa makanan dan minuman yang lezat; yang teriak paling dompet. Hahaha. Pemilihan tempat publik juga bertujuan untuk mengenalkan komunitas Muda Mengajar dan program Speaking Club. 


So, if you are in Balikpapan, eager in learning foreign language and exited to polish your English conversation skills, why don’t you join us?! Info for participation are available in Instagram @mudamengajar.

4 komentar:

  1. Nice article parama
    Next please mention about tourism on bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Adam :D

      When I get back to Bandung I'am sure I'll write article about it

      Hapus
  2. Thx kak parama..di tunggu lagi tulisan tulisan kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. You're welcome, Mas Dibilank.

      Iyaa, bantu sumbang ide tulisan tentang MM dong

      Hapus